PROVINSI BANTEN
A. GEOGRAFI
Sumber : bantenprov.go.id
Kondisi geografis Profvinsi Banten Terletak di Ujung Pulau Jawa, berada posisi astronomis 1050 01’ 11” - 1060 07’12” BT dan 500 7’50” – 700 1’1” LS. Wilayah Provinsi Banten yang terletak di ujung barat Pulau Jawa merupakan lintasan distribusi arus barang, jasa dan penumpang terpadat dengan tingkat mobilisasi sebesar ± 60% dari total mobilisasi Nasional. Iklim dan Topografi Wilayah Banten memiliki iklim tropis dipengaruhi oleh Angin Monson (Monson Trade) dan Gelombang La Nina atau El Nino. Musim penghujan terjadi pada bulan November-Maret, cuaca dipengaruhi oleh angina barat (dari Sumatera, Samudera Hindia sebelah selatan india) dan angina dari Asia yang melewati Laut Cina Selatan. Musim kemarau terjadi pada bulan Juni-Agustus, cuaca dipengaruhi oleh angina timur. Temperature di daerah pantai dan perbukitan berkisar antara 220 C 320 C, sedangkan suhu dipegunungan dengan ketinggian antara 400 – 1.300 m dpl mencapai antara 180 C – 290 C, dengan cuaca hujan sebesar 400ml/thn.
B. LUAS DAN BATAS WILAYAH
Sumber :bappedabanten
Luas wilayah Banten yaitu sekitar 966.292 Km2.
Batas-batas wilayahnya yaitu :
1. Sebelah Utara dengan Laut Jawa.
2. Sebelah Timur dengan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat
3. Sebelah Selatan dengan Samudera Hindia.
4. Sebelah Barat dengan Selat Sunda Banten memiliki keunggulan fisik geografis yang strategis, sebagai pintu gerbang Jawa-Sumatera dan dilalui lalu lintas perdagangan Internasional.
C. SEJARAH
Sumber : Kompas.com
Banten atau dahulu dikenal dengan nama Bantam pada masa lalu merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta dengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Banten pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara adalah Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, yang ditemukan di Kampung Lebak di tepi Ci Danghiyang, Kecamatan Munjul, Pandeglang, Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947, dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan keberanian Raja Purnawarman. Setelah runtuhnya Kerajaan Tarumanagara (menurut beberapa sejarawan ini akibat serangan Kerajaan Sriwijaya), kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulonsampai Ci Sarayu dan Ci Pamali dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda. Seperti dinyatakan oleh Tome Pires, penjelajah Portugis pada tahun 1513, Bantam menjadi salah satu pelabuhan penting dari Kerajaan Sunda. Menurut sumber Portugis tersebut, Bantam adalah salah satu pelabuhan kerajaan itu selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Kalapa, dan Cimanuk.
Diawali dengan penguasaan Kota Pelabuhan Banten yang dilanjutkan dengan merebut Banten Girang dari Pucuk Umun pada tahun 1527, Maulana Hasanuddin mendirikan Kesultanan Bantendi wilayah bekas Banten Girang. Pada tahun 1579, Maulana Yusuf, penerus Maulana Hasanuddin, menghancurkan Pakuan Pajajaran, ibu kota atau pakuan (berasal dari kata pakuwuan) Kerajaan Sunda. Dengan demikian pemerintahan di Jawa Barat dilanjutkan oleh Kesultanan Banten. Hal itu ditandai dengan dirampasnya Palangka Sriman Sriwacana, tempat duduk kala seorang raja dinobatkan, dari Pakuan Pajajaran ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa diboyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu mengharuskan demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf mengklaim sebagai penerus kekuasaan Kerajaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja sementara di sisi lain para Kandaga Lante dari Kerajaan Pajajaran secara resmi menyerahkan seluruh atribut dan perangkat kerajaan beserta abdi kepada Kerajaan Sumedang Larang untuk meneruskan kelanjutan Kerajaan Sundaatau Pajajaran yang merupakan trah Siliwangi.
Dengan dihancurkannya Pajajaran maka Banten mewarisi wilayah Lampung dari Kerajaan Sunda. Hal ini dijelaskan dalam buku The Sultanate of Banten tulisan Claude Guillot pada halaman 19 sebagai berikut: "From the beginning it was obviously Hasanuddin's intention to revive the fortunes of the ancient kingdom of Pajajaran for his own benefit. One of his earliest decisions was to travel to southern Sumatra, which in all likelihood already belonged to Pajajaran, and from which came bulk of the pepper sold in the Sundanese region”
Ketika sudah menjadi pusat Kesultanan Banten, sebagaimana dilaporkan oleh J. de Barros, Bantam merupakan pelabuhan besar di Asia Tenggara, sejajar dengan Malaka dan Makassar. Kota Bantam terletak di pertengahan pesisir sebuah teluk, yang lebarnya sampai tiga mil. Kota itu panjangnya 850 depa. Di tepi laut kota itu panjangnya 400 depa; masuk ke dalam ia lebih panjang. Melalui tengah-tengah kota ada sebuah sungai yang jernih, di mana kapal jenis jung dan gale dapat berlayar masuk. Sepanjang pinggiran kota ada sebuah anak sungai, di sungai yang tidak seberapa lebar itu hanya perahu-perahu kecil saja yang dapat berlayar masuk. Pada sebuah pinggiran kota itu ada sebuah benteng yang dindingnya terbuat dari bata, dan lebarnya tujuh telapak tangan. Bangunan-bangunan pertahanannya terbuat dari kayu, terdiri dari dua tingkat dan dipersenjatai dengan senjata yang baik. Di tengah kota terdapat alun-alun yang digunakan untuk kepentingan kegiatan ketentaraan, dan kesenian rakyat, dan sebagai pasar di pagi hari. Istana raja terletak di bagian selatan alun-alun. Disampingnya terdapat bangunan datar yang ditinggikan dan beratap, disebut Srimanganti, yang digunakan sebagai tempat raja bertatap muka dengan rakyatnya. Di sebelah barat alun-alun didirikan sebuah masjid agung.
Pada awal abad ke-17 Masehi, Bantam merupakan salah satu pusat perniagaan penting dalam jalur perniagaan internasional di Asia. Tata administrasi modern pemerintahan dan kepelabuhan sangat menunjang bagi tumbuhnya perekonomian masyarakat. Daerah kekuasaannya mencakup juga wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Lampung. Ketika orang Belanda tiba di Bantam untuk pertama kalinya, orang Portugis telah lama masuk ke Bantam. Kemudian orang Inggris mendirikan loji di Bantam dan disusul oleh orang Belanda.
Selain itu, orang-orang Prancis, dan Denmark pun pernah datang di Bantam. Dalam persaingan antara pedagang Eropa ini, Belanda muncul sebagai pemenang. Orang Portugis melarikan diri dari Bantam (1601), setelah armada mereka dihancurkan oleh armada Belanda di perairan Bantam. Orang Inggris pun tersingkirkan dari Batavia (1619) dan Bantam (1684) akibat tindakan orang Belanda.
Pada 1 Januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi, dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia Belanda yang diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No. 27 jo No. 28, 1928 No. 438, dan 1932 No. 507. Banten menjadi salah satu keresidenan yaitu Bantam Regentschappen dalam Provincie West Java di samping Batavia, Buitenzorg (Bogor), Preanger (Priangan), dan Cirebon.
D. DEMOGRAFI
Sumber : kabartangsel.com
Pada tahun 2006, penduduk Banten berjumlah 9.351.470 jiwa, dengan perbandingan 3.370.182 jiwa (36,04%) anak-anak, 240.742 jiwa (2,57%) lanjut usia, sisanya 5.740.546 jiwa berusia di antara 15 sampai 64 tahun.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2005 mayoritas berasal dari sektor industri pengolahan (49,75%), diikuti sektor perdagangan, hotel, dan restoran (17,13%), pengangkutan, dan komunikasi (8,58%), serta pertanian yang hanya 8,53%. Namun berdasarkan jumlah penyerapan tenaga kerja, industri menyerap 23,11% tenaga kerja, diikuti oleh pertanian (21,14%), perdagangan (20,84%) dan transportasi/komunikasi yang hanya 9,50%.
Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2010 dengan jumlah penduduk 10.607.197 jiwa, suku bangsa di provinsi Banten sangat beragam, dengan mayoritas suku asli setempat yakni suku Suku Sunda tepatnya orang Sunda Banten, termasuk di dalamnya kelompok kecil Sunda Badui, sebanyak 4.321.991 jiwa (40,75%). Suku bangsa terbesar lainnya dari pulau Jawa adalah orang Sunda Priangan sebanyak 2.402.236 jiwa (22,65%), kemudian suku Jawa Serang 1.657.470 jiwa (15,63%), dan Betawi 1.365.614 (12,87%)
E. AGAMA DAN SUKU BANGSA
Sumber : pmb.brin.go.id
Sebanyak 11,12 juta jiwa (94,82%) atau mayoritas penduduk provinsi paling Barat di Pulau Jawa tersebut beragama Islam. Kemudian Kristen menjadi agama mayoritas kedua dengan jumlah pemeluk sebanyak 308,94 ribu jiwa atau 2,62% dari penduduk Banten. Berikutnya, 143,32 ribu jiwa (1,22%) beragama Katholik, 141,64 ribu jiwa (1,2%) beragama Budha, 8,47 ribu jiwa (0,07%) beragama Hindu, 2,22 ribu jiwa (0,02%) bergama Konghucu, dan yang menganut aliran kepercayaan 6,54 ribu jiwa (0,06%).
Suku Banten atau Sunda Banten adalah orang Sunda yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten[3] di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, populasi suku Banten mewakili 2,1% dari penduduk Indonesia, atau sekitar 4.657.000 jiwa lebih.[4][5] Orang Banten umumnya bertutur menggunakan sebuah dialek dari bahasa Sunda yang disebut sebagai bahasa Sunda Banten.
F. EKONOMI
Sumber : jabarnews
Perekonomian Provinsi Banten melanjutkan pertumbuhan positif pada triwulan II 2022 yaitu sebesar 5,70% (yoy) atau sebesar 0,95% (qtq). Sinyal perbaikan ekonomi terindikasi dari berbagai sektor utama penopang perekonomian Banten. Dari sisi permintaan, keyakinan masyarakat akan kondisi perekonomian dan mobilitas yang semakin kuat menjadi key driven berlanjutnya pertumbuhan ekonomi di awal tahun 2022. Dibandingkan regional Jawa maupun Nasional, pertumbuhan ekonomi Banten triwulan II 2022 memang tercatat lebih tinggi. Adapun perekonomian di regional Jawa maupun nasional masing-masing tumbuh sebesar 5,66% (yoy) dan 5,44% (yoy).
G. PEMERINTAH
Berikut merupakan daftar Gubernur Provinsi Banten
1. Bupati : Djoko Munandar(1948-2008) Wakil : Ratu Atut
11 Januari 2002 - 20 Oktober 2005
2. Bupati : Ratu Atut(lahir 1962) Wakil : Masduki
11 Januari 2007 - 11 Januari 2012
3. Bupati : Ratu Atut. Wakil : Rano Karno
11 Januari 2012 - 29 Juli 2015
4. Bupati : Rano Karno 12 Agustus 2015 - 11 Januari 2017
5. Wahidin Halim : Andika Hazrumy
12 Mei 2017 - 12 Mei 2022
Pengganti sementara Gubernur
Dalam tumpuk pemerintahan, seorang kepala daerah yang mengajukan diri untuk cuti atau berhenti sementara dari jabatannya kepada pemerintah pusat, maka Mentri Dalam Negri menyiapkan penggantinya yang merupakan birokrat di pemerintah daerah atau bahkan wakil gubernur, termasuk ketika posisi gubernur berada dalam masa transisi. Berikut merupakan daftar pengganti sementara untuk jabatan Gubernur Banten.
Catatan
1. Pada 10 Oktober 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menonaktifkan Djoko setelah menjadi tersangka kasus korupsi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 169/M/Tahun 2005.
2. Pada 9 Mei 2014, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menonaktifkan Atut setelah menjadi tersangka kasus korupsi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 28/P/2014. Kemudian ia diberhentikan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada 29 Juli 2015 melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 63/P Tahun 2015.
Keterangan
1. Gubernur Banten cuti dalam kontestasi Pemilihan Umum Gubernur Banten 2017. Kemudian, Pemerintah Pusat menunjuk Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri untuk menjadi Pelaksana Tugas Gubernur Banten.
DPRD Banten beranggotakan 85 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Pimpinan DPRD Banten terdiri dari 1 Ketua dan 4 Wakil Ketua yang berasal dari partai politik pemilik jumlah kursi dan suara terbanyak. Anggota DPRD Banten yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 2 September 2019 oleh Ketua Pengadilan Tinggi Banten di Gedung DPRD Provinsi Banten. Komposisi anggota DPRD Banten periode 2019-2024 terdiri dari 12 partai politik dimana Partai Gerindra adalah partai politik pemilik kursi terbanyak yaitu 16 kursi. Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Banten dalam dua periode terakhir
H. PARIWISATA
1. Taman Nasional Ujung Kulon
Sumber : id.wikipedia.org
Merupakan salah satu taman nasional, dan lokasi konservasi alam yang penting di Indonesia, dan dunia. Selain keindahan hutan tropis dataran rendah, badak bercula satu merupakan primadona daya tarik dari lokasi ini. Taman nasional ini terletak di semenanjung paling barat Pulau Jawa, ditambah dengan beberapa pulau kecil seperti halnya Pulau Peucang, Pulau Handeuleum, dan Pulau Panaitan. Titik tertinggi adalah Gunung Honje. Ciri khas taman nasional ini adalah perannya sebagai habitat alami berbagai jenis hewan yang dilindungi, seperti badak jawa, rusa, kijang, banteng, berbagai jenis primata, babi hutan, kucing hutan, kukang, dan aneka jenis burung. Kawasan ini dapat dicapai melalui Labuan atau melalui jalan laut dengan perahu menuju salah satu pulau yang ada. Ujung Kulon telah dilengkapi dengan berbagai sarana jaringan telekomunikasi, listrik, dan air bersih. Sarana pariwisata seperti penginapan, pusat informasi, pemandu wisata, dan sarana transportasi juga telah tersedia. UNESCO telah menyatakan bahwa area Ujung Kulon merupakan situs cagar alam warisan dunia.
2. Gunung Karang
Sumber : correcto.id
Sejak tahun 2012, Gunung Karang telah menjadi daya tarik wisatawan yang khususnya mereka pecinta alam, karena kondisi hutan Gunung Karang yang masih alami, dan juga suburnya tanaman anggrek di kawasan hutan hujan gunung ini. Sebenarnya Gunung Karang merupakan lokasi wisata ziarah, tetapi karena keindahan alamnya, gunung setinggi 1778 mdpl ini juga menarik bagi para pecinta alam untuk menaklukan puncak yang sering disebut dengan puncak sumur tujuh.
3. Pulau umang
Sumber : travel.detik.com
Pulau Umang memiliki luas sekitar 5 Ha, dan terletak di kawasan objek wisata Pantai Pandeglang, berdekatan dengan kawasan wisata Tanjung Lesung. Kawasan wisata ini dikelola oleh sebuah perusahaan swasta yang menyediakan berbagai fasilitas rekreasi dan hiburan yang menarik. Di pulau ini, terdapat resor yang ditata dengan sentuhan artistik alami, dilengkapi dengan ruang pertemuan, kafe, spa, pusat bisnis, sunset lounge, klub pantai, kolam renang, dan sebagainya. Selain itu, tersedia fasilitas olahraga, dan rekreasi air, jogging track, cross country, lapangan tenis, tempat karaoke, dan lain-lain. Kita dapat menuju ke pulau ini dengan relatif mudah. Perusahaan pengelola kawasan ini menyediakan penyewaan mobil dari Jakarta menuju pulau ini atau dapat juga dicapai dari kawasan Ujung Kulon.
I. KEBUDAYAAN
Sumber : kabarbanten.pikiran-rakyat.com
Potensi, dan kekhasan budaya masyarakat Banten, antara lain seni bela diri yang berasal dari budaya Sunda Banten yaitu Pencak silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. Di samping itu juga terdapat peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama, Makam Keramat Panjang, dan masih banyak peninggalan lainnya.
J. TOKOH TERKENAL
1. Sultan Ageng Tirtayasa
Sumber : id.wikipedia.org
sultan pada usia yang masih muda (20 tahun) dan mendapatkan gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Semasa hidupnya beliau memerintahkan rakyat Banten untuk menolak kerjasama dengan VOC (Belanda). Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa tangkap dan dibuang di Batavia. Sultan Ageng wafat pada 1692. Beberapa perjuangan Sultan Ageng untuk bangsa ini di antaranya keberhasilannya memajukan pertanian dengan sistem irigasi, memperluas hubungan diplomatik, dan meningkatkan volume perniagaan Banten sehingga mampu menempatkan diri secara aktif dalam dunia perdagangan internasional di Asia.
2. Syafruddin Perwiranegara
Sumber : id.wikipedia.org
Syafruddin Prawiranegara lahir di Serang, Banten, pada tanggal 28 Februari 1911. Mengutip informasi yang ada dalam laman resmi Bank Indonesia, Syafruddin adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi Presiden De Javasche Bank (DJB) pada masa-masa akhir (1951-1953). Syafruddin menjadi pelopor dalam usulan agar pemerintah RI segera menerbitkan mata uang sendiri sebagai atribut kemerdekaan Indonesia untuk menggantikan beberapa mata uang asing yang masih beredar luas. Salah satu yang menjadi sorotan di masa kepemimpinan beliau adalah keteguhannya dalam menjalankan fungsi utama bank sentral sebagai penjaga stabilitas nilai rupiah serta pengelolaan moneter. Diketahui, Syafruddin Prawiranegara wafat di Jakarta 15 Februari 1989 pada usia 77 tahun.
3. Brigjen KH Syam’un
Sumber : id.wikipedia.org
Brigjen K.H Syam’un lahir di Kampung Beji Desa Bojonegara pada tahun 1883. Brigjen K.H Syam’un terkenal dengan ulama yang berkharismatik. Dikutip dari Buku “Kyai Haji Sjam’un (1883-1949)”, kehadiran K.H Syam’un dalam masyarakat Banten diterima sebagai pelopor pembaharuan dan pengaruhnya baru terasa ketika beliau berhasil membina pesantren Citangkil yang kemudian dinamakan Perguruan Islam Al-Khaeriyah. Selain itu, KH Syam’un membuka pusat pendidikan yang lebih luas dengan menggabungkan dua sistem pendidikan tradisional dan modern. Bantuan yang diberikan kepada santri bersifat materil dan moril juga menjadi kewajiban K.H Syam’un untuk dapat melestarikan tradisi islam melalui pendidikan. Bridjen K.H Syam’un juga berperan andil dalam perjuangan mengusir penjajah. Perjuangan militer dilakukan dengan bergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air) pada periode 1942-1945 sebagai komandan batalyon. Setelah tentara Jepang menyerah kepada sekutu, Syam’un diangkat menjadi Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Karisidenan Banten pada September 1945. Syam’un juga berperan dalam upaya mengusir mengusir tentara Jepang di Banten.
K. PERGURUAN TINGGI DAN PENDIDIKAN
1. Perguruan Tinggi Negri
- Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Sumber : Tribunnews.com
- Universitas Pendidikan Indonesia
- UIN Sultan Maulana Hasanuddin
Sumber : bantensuara.com
- Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah
Sumber : Gramedia.com
2. Perguruan Tinggi Kedinasan
- Politeknik Keuangan Negara STAN
- Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimotologi, Geofisika
Sumber : duniainfodantips.blogger.com
- Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Curug
Sumber : bic.id




















